Apa Itu Kecanduan? Bagaimana Cara Mengatasinya?

Saya membuat artikel ini karena saya rasa ini merupakan sebuah informasi yang sangat penting bagi kita semua. Saya meriset topik ini karena juga sedang menghadapi masalah kecanduan.

Mungkin teman-teman pembaca mengira saya kecanduan narkoba, tapi bukan itu loh! Kecanduan bisa terhadap banyak hal. Bahkan sebenarnya kecanduan itu bukan sesuatu yang buruk, tapi tergantung apa yang dicandu.

Misalnya kecanduan olahraga, bukankah sesuatu yang baik?

Kalau saya sendiri, saya sedang menghadapi kecanduan video game, dan saya ingin mengatasi kecanduan ini.

Proses Timbulnya Kecanduan

Kecanduan timbul karena hormon yang dinamakan dopamin. Hormon ini adalah senyawa kimia yang membuat kita merasakan sesuatu yang nikmat atau menyenangkan.

Hormon ini diproduksi oleh otak ketika kita melakukan sesuatu yang membuat kita merasakan nikmat atau senang. Walaupun kita melakukan hal tersebut secara tidak sukarela atau dipaksa.

Dopamin menjadi sebuah motivasi bagi otak kita untuk mengulangi hal tersebut. Otak kita mempelajari sebuah informasi bahwa kita akan mendapatkan kenikmatan dengan melakukan hal tersebut.

Human head profile silhouette with gears inside thinking process concept vector illustration

Kita pun mengulangi hal tersebut dan mendapatkan kenikmatan yang sama. Namun setelah diulang berkali-kali, kenikmatan yang dirasakan pun menurun dan otak kita akan memberikan instruksi untuk mengulangi lebih banyak lagi. Dari sini kecanduan mulai tercipta.

Ketika kecanduan sudah parah, kita sudah tidak lagi merasakan nikmat atau senang, dan berubah menjadi sebuah kebutuhan. Kita akan merasa ketidaknyamanan atau tersiksa jika tidak melakukannya.

Cara Mengidentifikasikan Kecanduan Yang Baik dan Buruk

Dalam hidup kita itu banyak sekali aktivitas yang kita lakukan karena kecanduan. Hanya saja, orang awam mengartikan kecanduan itu sesuatu yang buruk. Ketika mendengar kata “kecanduan”, biasanya dianggap kecanduan narkoba, pornografi, media sosial, game, ataupun lainnya yang kurang baik.

Padahal sebenarnya, kecanduan itu bisa menjadi sesuatu yang baik, buruk ataupun netral.

Saya yakin sebagian dari kita memiliki kecanduan terhadap nasi. Kalau makan tanpa nasi putih, rasanya ada yang kurang. Benar kan? Bukankah itu sebuah kecanduan?

Ada yang mengatakan bahwa nasi putih tidak memberikan kenikmatan. Jadi apakah makan nasi putih termasuk kecanduan?

Lalu saya bertanya kembali, jika memang tidak terasa nikmat, kenapa tidak bisa makan tanpa nasi? Atau jangan-jangan sudah menjadi sebuah kecanduan yang parah? Hehe.

Contoh lainnya adalah menggosok gigi. Gogok gigi itu biasa aja, tidak ada nikmatnya. Tapi mengapa kita mau melakukannya setiap hari? Mengapa kalau tidak dilakukan rasanya ada yang tidak enak?

Namun, dua contoh di atas adalah jenis kecanduan yang tidak buruk. Dan sebaliknya, gogok gigi itu kan sesuatu yang baik ya.

Sebenarnya, kecanduan hal yang sama bisa memberikan efek yang berbeda kepada orang yang berbeda. Untuk kondisi saya saat ini, kecanduan bermain game memberikan efek yang tidak baik. Tapi kecanduan bermain game bisa memberikan efek yang baik untuk orang-orang tertentu, misalnya untuk para gamer profesional.

Nah, jadi bagaimana kita bisa menilai apakah kecanduan yang kita miliki ini sifatnya baik atau buruk? Atau juga netral.

Menurut saya, begini rumusnya.

Jika apa yang kita lakukan sekarang berarti mengorbankan masa depan kita, maka itu adalah sesuatu yang buruk.

Dalam kasus saya, bermain video game 2-3 jam sehari bisa membuat saya menunda pekerjaan, sehingga gol finansial saya tidak tercapai, yang bisa mengakibatkan saya mengalami kesulitan finansial bulan depan. Sudah jelas ini sesuatu yang tidak baik.

Jika dalam kondisi saat ini saya kecanduan bermain video games, maka itu adalah sebuah kecanduan yang tidak baik.

Lain ceritanya jika saat ini saya sudah memiliki kebebasan finansial. Walaupun saya tidak bekerja, pendapatan pasif saya bisa menghidupi saya dan keluarga, bisa membiayai anak saya hingga selesai kuliah dan saya juga sudah mempunyai asuransi yang melindungi sampai saya mati.

Dalam kondisi seperti ini, saya bermain game tidak akan mengorbankan masa depan saya. Jadi bisa dibilang kecanduan ini bukanlah sesuatu yang buruk.

Cara Mengatasi Kecanduan

Dari penjelasan di atas, mungkin teman-teman pembaca sudah mulai menemukan beberapa kecanduan yang ada dalam hidup masing-masing.

Ada kecanduan yang sifatnya netral, tidak masalah. Ada kecanduan yang sifatnya baik, bagus!

Namun pasti ada kecanduan yang sifatnya buruk. Termasuk juga kecanduan melakukan hal-hal yang kecil, misalnya suka ngupil di depan umum, hehe. Tapi kita tahu itu adalah sesuatu yang buruk, dan kita ingin menghilangkan kecanduan ini kan?

Sekarang mari kita bahas caranya.

1. Cari Alternatif Lain

Kita akan memulai dengan kembali meninjau proses timbulnya kecanduan. Kita melakukan sesuatu yang nikmat dan otak memproduksi hormon dopamin yang menjadi motivator untuk mengulanginya kembali.

Yang perlu kita perhatikan atau introspeksi adalah sebenarnya apa yang membuat kita merasakan nikmat?

Kita menggunakan kembali kasus saya sebagai contoh. Ketika bermain game, yang membuat saya senang adalah ketika naik level atau menemukan item unik yang bisa membuat karakter saya menjadi lebih hebat.

Setelah kita berhasil menemukan penyebab timbulnya rasa nikmat atau senang, sekarang kita mau mencari alternatif lain yang bisa memberikan efek yang sama atau mirip. Dan pastikan kita mencari alternatif yang sifatnya baik.

Dalam kasus saya, saya juga merasakan nikmat yang sama ketika traffic blog saya meningkat. Rasanya sama seperti naik level. Lalu jika ada website lain yang menampilkan tautan ke Bebas.blog, itu rasanya seperti dapat item baru.

Bagi saya, Bebas.blog seperti sebuah karakter game. Jadi saya menggunakan blog ini sebagai alternatif dari karakter game yang saya mainkan.

2. Eliminasi Pemicu

Kita masih belum selesai setelah mendapatkan alternatif yang lebih baik. Masih besar kemungkinannya kita mengulangi kecanduan yang kita miliki. Kita harus membereskan kecanduan ini hingga ke akarnya.

Manusia adalah makhluk yang terbentuk oleh kebiasaan. Kita melakukan sesuatu karena ada pemicunya (yang mengawalinya).

Misalnya, ketika mendengar nada notifikasi, kita akan segera melihat HP kita. Kita tidak lagi memproses bahwa nada notifikasi berarti ada sebuah informasi yang baru di HP kita. Semua itu terjadi secara otomatis karena kebiasaan. Bahkan ketika nada notifikasi itu bukan dari HP kita, kita pun secara otomatis akan menyalakan layar HP.

Nada notifikasi ini kita sebut sebagai trigger atau pemicu.

Langkah selanjutnya yang harus kita lakukan untuk mengatasi kecanduan adalah dengan mengeliminasi semua pemicu dari kecanduan yang kita miliki.

Kembali lagi ke kasus saya. Ketika saya membuka Youtube dan melihat ada video tentang game yang saya mainkan, langsung timbul keinginan bagi saya untuk main saat itu juga. Padahal awalnya saya membuka Youtube karena ingin melakukan riset terhadap topik tertentu, tapi perhatian saya langsung teralihkan ke game tersebut karena terlihat thumbnail video tentang game tersebut.

Youtube berusaha agar penggunannya menonton video selama mungkin di platformnya, sehingga mereka bisa menampilkan lebih banyak iklan dan mendapatkan uang lebih banyak dari iklan tersebut. Karena itu, Youtube selalu merekomendasikan video-video yang mirip dengan video-video yang pernah kita tonton. Dalam kasus saya, video-video tersebut adalah tentang game yang saya sukai.

Saya harus segera mengeliminasi pemicu ini. Cara saya adalah dengan menghapus history (sejarah) video yang pernah saya tonton dan berhenti menonton video apapun tentang game tersebut. Setelah beberapa hari, rekomendasi video dari Youtube pun berubah dan saya terbebas dari pemicu tersebut.

Sebuah kecanduan biasanya memiliki lebih dari satu pemicu. Kita harus mengidentifikasi dan mengeliminasi semuanya.

Bagaimana Dengan Kecanduan Berat?

Nah, ini memang tantangan terbesarnya.

Dalam kondisi kecanduan berat atau parah, kita sudah tidak merasakan nikmat, dan kita melakukannya demi menghindari rasa ketidaknikmatan atau sengsara.

Jika kita sudah tidak merasakan nikmat, berarti kita sudah tidak bisa menemukan penyebabnya. Kecanduan yang berat juga sudah tidak bergantung pada pemicu, karena otak kita yang selalu memberikan intruksi untuk melakukannya, sekarang juga!

Karena itu, untuk mengatasi kecanduan yang sudah berat, kita harus bergantung pada niat atau komitmen yang kuat untuk berhenti.

Mau tidak mau kita harus merasakan dan melewati ketidaknikmatan yang timbul. Berapa lama? Tergantung seberapa berat atau parah kecanduan yang kita miliki.

Kemungkinan besar juga kita butuh bantuan orang lain untuk mengingatkan kita agar tidak mengulangi hal yang kita candu. Bahkan mungkin dibutuhkan unsur paksa untuk menghentikan kita melakukannya.

Kesimpulan

Kecanduan pada dasarnya adalah sebuah kebiasaan yang terbentuk karena rasa nikmat yang diperoleh ketika melakukannya pertama kali.

Setelah diulangi berkali-kali, rasa nikmat itu pun hilang, dan berubah menjadi sebuah ketergantungan yang akut.

Oleh karena itu, luangkan waktu untuk melakukan instropeksi diri secara berkala. Identifikasikan bibit-bibit kecanduan yang tidak baik. Atasi kecanduan tersebut sebelum menjadi sesuatu yang parah!

Semoga bermanfaat dan silakan bagikan ke yang lainnya.

Tinggalkan komentar