Cara Penggunaan Bon Rangkap Pada Umumnya

Bagi kamu yang lahir sebelum tahun 1980, mungkin artikel ini terlihat aneh. “Buat apa sih dijelasin cara menggunakan bon, masa gak tau sih!?”

Tapi ternyata, bagi saya kaum milenial dan yang lebih muda dari saya, banyak yang belum mengerti cara menggunakan bon ini pada umumnya. Buktinya, ketika saya menanyakan teman saya cara penggunaan bon rangkap ini, mereka juga pada gak ngerti.

Maklum ya, kami lebih terbiasa menggunakan yang digital, di mana jejaknya sangat mudah dilacak sehingga bisa dengan mudah dijadikan dasar hukum sebuah transaksi.

Lain ceritanya dengan bon rangkap ini. Ada yang berwarna putih, merah dan kuning. Buat apa sampai ada rangkap lebih dari satu?

Nah begini penjelasannya.

Di dalam bon ini ada kolom-kolom yang perlu diisi seperti biasanya. Kita harus mengisi nama penjual, nama pembeli, tanggal, nomor transaksi, detail barang yang diperjualbelikan, harga, dan lain sebagainya.

Setelah semuanya diisi dengan lengkap, prosedur berikutnya adalah sebagai berikut.

  1. Penjual meminta pembeli untuk menandatangani bon tersebut sebagai bukti pembeli sudah setuju dengan barang yang diperjualbelikan dan sudah diterima dengan baik (formalitas saja, walaupun sebenarnya barang belum diantar).
  2. Pembeli kemudian menyimpan bon rangkap berwarna merah. Bon ini dibutuhkan sebagai lampiran dalam proses penagihan. Jika seandainya pembeli tidak mengakui transaksi tersebut, kan ada terlihat bukti tanda tangan yang telah dia berikan.
  3. Bon rangkap berwarna kuning ini sebenarnya opsional. Biasanya digunakan sebagai arsip pembukuan penjual.

Bukti Pembayaran

Biasanya untuk transaksi yang sifatnya kontan, yang langsung dibayar di tempat, pembeli berhak meminta bukti tanda terima pembayaran.

Tanda terima pembayaran bisa berupa stempel lunas pada bon putih beserta tanda tangan penjual. Jika nominalnya cukup besar, pembeli boleh meminta kwitansi dengan stempel toko penjual beserta tanda tangan di atas materai. Walaupun secara prakteknya, jarang sekali ada yang menyertakan materai.

Bagaimana jika seandainya pembayaran dilakukan beberapa hari setelah transaksi?

Nah, untuk kasus seperti ini, idealnya adalah pembeli tetap harus meminta bukti pembayaran dari si penjual, ataupun penagih dari pihak penjual.

Sering yang terjadi adalah, si penagih tidak mempersiapkan apa-apa. Jadi bagaimana baiknya?

Jika kamu ragu, langsung aja hubungi si penjual untuk memastikan bahwa si penagih memang ditugaskan. Setelah itu, minta si penagih untuk membubuhkan tanda tangan pada secarik kwitansi yang kita persiapkan sendiri (atau bon putih pembelian juga boleh) sebagai bukti pembayaran. Jika masih ragu, kamu boleh merekam ketika si penagih sedang membubuhkan tanda tangannya.

Walaupun agak ribet dan terkadang bisa dianggap sebagai satu aksi yang tidak menunjukkan kepercayaan terhadap si penjual, namun alangkah baiknya kita mempersiapkan diri agar tidak terjadi hal yang tidak mengenakkan untuk bisnis kita ya.

Tinggalkan komentar