Henrietta Lacks, Wanita Dengan Sel Abadi

Henrietta Lacks adalah seorang wanita yang memiliki satu kelebihan yang tidak dimiliki manusia normal lainnya, yaitu sel-sel yang dia miliki tidak bisa mati. Sel-sel ini bahkan masih bereplikasi sampai saat ini, dan jika ditimbang, berat totalnya adalah sekitar 50 juta ton.

Sel-sel Henrietta merupakan satu faktor penting dalam penemuan obat polio, pemetaan gen, studi tentang bagaimana sel bekerja, penelitian pengobatan kanker, herpes, leukimia, flu, hemofilia, Parkinson, AIDS, dan masih banyak lagi. Jika ada satu penelitian yang berhubungan dengan tubuh manusia, kemungkinan besar penelitian tersebut menggunakan sel abadi miliki Henriettta. Bahkan sel milik Henrietta juga pernah dikirim ke luar angkasa melalui satelit tanpa awak untuk mengetahui apakah jaringan manusia dapat bertahan di ruangan tanpa gravitasi.

Kamu dapat mengunjungi laboratorium kultur sel yang ada di segala penjuru dunia dan kemungkinan besar kamu akan menemukan miliaran sel milik Henrietta disana. Sel manusia pada umumnya akan mati setelah beberapa kali melakukan replikasi, uniknya, sel milik Henrietta dapat tetap hidup. Yang lebih hebat lagi, sel milik Henrietta tetap dapat bereplikasi ketika sudah tidak berada di dalam tubuh manusia. Hanya dengan nutrisi secukupnya, sel milik Henrietta akan terus mereplikasi dirinya tanpa henti, sudah hampir 60 tahun sejak pertama kali sel ini dikulturisasi. Sel-sel ini juga dapat di bekukan selama beberapa puluh tahun dan ketika di kembalikan ke suhu normal, mereka dapat bereplikasi lagi.

Kultur sel adalah suatu proses dimana suatu sel dari suatu jaringan diambil dan ditumbuhkan pada kondisi yang terkontrol.

Sebelum keunikan sel Henrietta ini ditemukan dan dikulturisasi, para peniliti hampir tidak bisa mendapatkan hasil yang baik dari segala penelitian yang berkaitan dengan sel. Sel-sel yang hendak dipelajari para peneliti akan menjadi lemah dan mati dengan cepat ketika berada di luar tubuh manusia. Sel milik Henrietta, untuk pertama kalinya, menciptakan satu standar (patokan) untuk para peneliti yang melakukan percobaan terhadap sel manusia. Yang lebih baik lagi, sel ini dapat bertahan hidup meskipun di kirim melalui surat. Jadi, para peneliti dapat menggunakan sel yang sama, patokan yang sama, ketika melakukan penelitian di tempat yang berbeda.

Henrietta adalah seorang wanita berkulit hitam yang miskin, dia meninggal pada tanggal 4 Oktober 1951 karena kanker serviks, pada saat itu dia hanya berusia 31 tahun. Ketika penyakitnya diperiksa, seorang dokter mengambil contoh sel dari tumornya tanpa sepengetahuan dan persetujuan darinya. Dokter ini kemudian mengirim contoh sel ke rekannya yang bernama Dr. George Gey. Dr. Gey saat itu telah menghabiskan waktu 20 tahun berusaha menghasilkan jaringan manusia dari kultur sel. Asisten lab disana yang bernama Mary Kubicek, menemukan bahwa sel milik Henrietta, tidak seperti sel manusia lainnya, dapat hidup dan bereplikasi diluar tubuh.

Henrietta mati karena keracunan uremik ketika berada di dalam ruangan berobat yang dipisah khusus untuk orang berkulit hitam, sekitar delapan bulan setelah didiagnosa terkena kanker serviks. Dia tidak tahu bahwa sel miliknya akan menjadi sebuah alat yang sangat vital bagi pengobatan modern dan dapat menghasilkan industri sebesar milyaran dollar dimana sel-sel milik dia yang akan diperjualbelikan.

Dia meninggalkan suami dan kelima orang anaknya, dan mereka saat ini masih hidup dalam kemiskinan. Mereka tidak menyadari betapa pentingnya sel milik Henrietta untuk perkembangan pengobatan modern.

Tinggalkan komentar