Hewan Bioluminesensi Yang Dipakai Dalam Perang Dunia II

Dalam situasi perang, sebuah hal kecil yang bisa memberikan informasi tentang lawan sangatlah berharga. Setitik cahaya lampu saja bisa menyebabkan musuh mengetahui lokasi kita dan menyebabkan nyawa melayang.

Karena itu, Napoleon Bonaparte memerintahkan salah satu bawahannya untuk menciptakan cara berkomunikasi dengan aman di malam hari. Inilah asal usul terciptanya huruf Braille.

Namun tentara Jepang menggunakan cara yang berbeda ketika Perang Dunia kedua berlangsung. Mereka memanfaatkan kemampuan salah satu spesis unik yang ada di laut. Spesis ini disebut Ostracod.

Ostracod

Ostracod adalah salah satu spesis hewan krustasea atau udang-udangan yang bisa ditemukan di laut.

Sama seperti kunang-kunang, ostracod merupakan hewan yang tergolong bioiluminesensi. Tidak seperti golongan biofluoresensi ya, hewan bioiluminesensi bisa menghasilkan cahaya sendiri tanpa harus menyerap cahaya terlebih dahulu.

Baca juga Ikan Mas Bercahaya Setelah Diberikan DNA Ubur-ubur

Perang Dunia II

Pada akhir tahun 1990-an, seorang ahli biologi kelautan yang bernama Steven Haddock mengunjungi laboratorium temannya yang bernama Osamu Shimomura. Mereka memiliki minat yang sama terhadap topik bioiluminesensi.

Suatu saat, Shimomura menuangkan biji-bijian kecil dari sebuah stoples ke tangannya, memberikannya sedikit air, lalu diremas-remasnya biji-bijian tersebut dalam genggamannya. Kemudian dia mematikan lampu hingga keadaan laboratoriumnya gelap gulita.

Kecuali satu hal, yaitu tangannya yang telah meremas biji-bijian tersebut, bersinar terang berwarna biru seperti dalam dunia fantasi.

Kemudian Shimoura menjelaskan kepada Haddock kalau biji-bijian yang barusan dia remas tadi sebenarnya adalah tubuh hewan ostracod yang telah dikeringkan.

Di masa Perang Dunia kedua, para tentara Jepang memanen banyak sekali jenis hewan dari laut, dan salah satunya adalah ostracod. Mereka menemukan bahwa umihotaru (kunang-kunang laut dalam bahasa Jepang) bisa menghasilkan cahaya biru yang cukup terang untuk para tentara membaca peta, namun tidak terlalu terang untuk terdeteksi oleh musuh.

Kata Shimomura, kita cukup memberikan air yang cukup dan tubuh ostracod akan memancarkan sinar biru tanpa harus memakai baterai. Walaupun tubuh plankton yang dikeringkan ini telah berumur beberapa puluh tahun, kemampuan bioiluminesensinya tetap terjaga.

Leave a Comment