Kedamaian Hati Yang Sebenarnya

Setiap orang meninginkan hidup yang damai. Hmm… ya mungkin tidak semua orang, tapi sebagian besar orang.

Banyak sekali buku ataupun konten yang mengajarkan kita bagaimana untuk memperoleh satu hal yang kita idamkan ini. Namun, dari begitu banyaknya buku atau konten tersebut, sebagiam besar saya tidak setuju dengan isinya.

Kenapa begitu?

Sebagian besar mengajarkan kita untuk mengubah situasi dan kondisi di sekitar hidup kita jika ingin mendapatkan kedamaian.

Ubahlah pergaulan kita. Jangan lagi bergaul dengan orang-orang toxic.

Jangan lagi pakai medsos. Banyak hal-hal palsu yang menimbulkan keinginan yang sebenarnya tidak kita butuhkan.

Dengar musik-musik instrumental, gelombang otak menjadi tenang, hati pun akan damai.

Jauhi keramaian. Pindah ke daerah pedalaman. Udara lebih segar, tidak ada hiruk pikuk, dlsb.

Ubah gaya hidup menjadi minimalis. Hindari hal-hal yang tidak dibutuhkan.

Tapi menurut saya, tidak mungkin kita bisa melakukan hal itu semua. Tidak semua hal berada di bawah kendali kita.

Sebagai contoh, misalnya kita sekarang memilih-milih teman. Alhasil, diri kita menjadi bahan gosip orang-orang, kita dianggap sombong dan lainnya. Apakah hidup kita bisa damai??

Ya, pendapat mereka ga perlu dihiraukan lah… Buat apa?!

Nah, itu dia…

Menurut saya, kedamaian itu bisa didapatkan dari dalam diri kita sendiri. Semuanya itu adalah hasil persepsi otak kita.

Jika kamu merasa keramaian itu menciptakan ketidak-damaian, maka benar adanya. Jika kamu merasa keramaian itu tidak akan mengganggu kedamaian dalam diri kita, itu juga benar adanya.

Akhir cerita… Yang ingin saya sampaikan adalah… Latihlah diri kita agar bisa damai dalam kondisi apapun. Inilah kedamaian hakiki, kedamaian yang tidak bergantung pada apapun, kedamaian yang berada dalam kendali kita.

Teman-teman bisa membaca buku berjudul Man’s Search for Meaning yang ditulis oleh Viktor Frankl. Buku ini bercerita tentang bagaimana seseorang bisa bertahan hidup ketika disiksa dalam

Tinggalkan komentar