Mengapa Menyipitkan Mata Dapat Membuat Kita Melihat Lebih Jelas

Ketika satu objek terlihat tidak begitu jelas, mungkin karena jaraknya cukup jauh dari kita atau karena cahaya terlalu silau, kita pasti akan menyipitkan mata. Memang benar menyipitkan mata dapat membuat kita melihat lebih jelas, dan tulisan kali ini akan menjelaskan mengapa bisa begini.

Penglihatan

Penglihatan adalah cahaya yang masuk melalui mata kita dan telah dipersepsikan oleh otak. Perlu diperhatikan, istilah “cahaya” disini adalah semua radiasi elektromagnetik, bukan hanya radiasi dari spektrum yang terlihat.

Radiasi elektromagnetik dapat diklasifikasikan menjadi 7 macam: gammax-rayultraviolettampakinfraredgelombang mikro, dan gelombang radio.

Cahaya tampak berada di dalam rentang frekuensi, yang sangat sempit, yang dapat dirasakan oleh manusia. Cahaya tampak memiliki karakteristik yang sama seperti tipe-tipe radiasi elektromagnetik lainnya, yaitu sama-sama dalam bentuk frekuensi (panjang gelombang). Di dalam rentang frekuensi cahaya tampak ini, mata kita dapat mempersepsikan warna dan objek. Dalam frekuensi radiasi elektromagnetik lainnya, contohnya x-ray, kita bahkan bisa melihat tulang yang ada di bawah kulit dan daging kita.

Nah, bagaimana sebenarnya mata kita bekerja?

Mata kita memiliki beberapa lapisan yang berfungsi untuk menangkap cahaya dan merubahnya menjadi impuls listrik yang kemudian diproses oleh otak. Lapisan terluar disebut sebagai sclera, bagian berwarna putih yang memberikan bentuk mata, dan merupakan tempat menempelnya otot-otot yang mengatur gerak mata. Bagian depan dari sclera adalah lapisan transparan yang disebut kornea. Semua cahaya yang masuk ke mata harus melewati kornea.

Lapisan selanjutnya adalah koroid. Lapisan ini memiliki banyak pembuluh darah yang berfungsi memberikan nutrisi pada mata kita. Lapisan ini juga mengandung iris (bagian mata yang berwarna) dan otot ciliary yang mengatur lensa mata. Lensa mata membantu membiaskan cahaya yang masuk ke dalam mata dan memfokuskannya pada lapisan terdalam mata, yaitu retina.

Retina memiliki dua tipe fotoreseptor: tipe batang dan tipe kerucut. Ketika cahaya melalui sel-sel ini, cahaya bereaksi terhadap pigmen visual yang ada di dalam sel-sel tersebut. Pigmenini memiliki protein yang disebut opsin. Bersamaan dengan molekul yang dinamakan kromofor, frekuensi cahaya yang bereaksi terhadap pigmen ini menghasilkan impuls listrik.

Fotoresptor tipe batang jauh lebih banyak dibandingkan dengan tipe kerucut, sekitar 120 juta banding 6-7 juta. Tipe batang lebih sensitif terhadap cahaya, karena itu sel-sel ini lebih sering digunakan ketika melihat dalam keadaan gelap. Sel-sel ini lebih banyak terdapat dibagian luar pusat retina, yang dinamakan makula. Sel tipe kerucut lebih baik dalam mendeteksi gerakan, maka sel-sel inilah yang paling banyak bekerja ketika kita sendang melihat sekeliling kita. Tipe batang hanya menggunakan satu macam opsin yang bernama rhodopsin untuk menciptakan impuls, tetapi tidak dapat membedakan warna.

Fotoreseptor tipe kerucut yang jauh lebih sedikit dan lebih tidak sensitif ini berfungsi untuk menghasilkan warna dan resolusi. Tipe kerucut memiliki tiga macam opsin yang bereaksi terhadap gelombang cahaya pendek, sedang dan panjang. Frekuensi-frekuensi ini merupakan gelombang warna merah, hijau dan biru. Oleh karena itu, tipe kerucut ini sering disebut kerucut merah, hijau dan biru. Untuk dapat melihat warna, harus ada dua macam fotoreseptor kerucut yang aktif. Warna yang kita persepsikan adalah berdasarkan stimulasi yang diterima pada setiap sel kerucut. Jadi, ketika kerucut merah dan hijau memiliki reaksi dalam jumlah yang sama, kita akan melihat bayangan berwarna kuning/oranye.

Menyipitkan Mata

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, fotoreseptor kerucut berfungsi untuk menghasilkan warna dan resolusi. Bagian mata yang memiliki sel-sel fotoreseptor kerucut terbanyak adalah makula. Dia bagian tengah makula adalah area yang bernama fovea centralis. Fovea memiliki sel-sel kerucut yang terkumpul banyak, tidak ada sel batang disini. Area dengan sel-sel kerucut yang sangat padat ini menghasilkan resolusi gambar yang sangat tinggi. Ketika kita memfokuskan penglihatan pada sesuatu yang spesifik, seperti pada tulisan yang sedang kita baca, mata kita terus-menerus bergerak dan mata membelokkan cahaya yang datang dari tulisan langsung ke fovea, dan kita akan mendapatkan gambar yang jelas.

Ketika mata kita terbuka lebar, gelombang cahaya dari segala penjuru memasuki mata kita. Semua gelombang cahaya tersebut akan diproses oleh sel-sel fotoreseptor batang dan kerucut yang ada di dalam mata. Ketika kita menyipitkan mata kita, jumlah cahaya yang masuk ke mata berkurang, area fokus penglihatan kita juga semakin kecil, sehingga pekerjaan mata menjadi lebih ringat. Sama halnya seperti ketika kita mencoba mendengarkan seseorang yang sedang berbicara di dalam ruangan yang ribut. Suara-suara lain menyebabkan kita lebih sulit fokus pada suara yang ingin kita dengarkan.

Bentuk lensa mata dan kemampuannya untuk berubah bentuk, membuat kita dapat fokus terhadap cahaya yang masuk ke dalam mata kita. Jika kita dilahirkan dengan bentuk lensa dan bola mata yang tidak normal atau elastisitas lensa kita menurun (biasanya karena penuaan), kemampuan untuk memfokuskan cahaya menjadi berkurang. Dengan menyipitkan mata kita, bentuk bola mata sedikit berubah, dan ini membantu lensa kita untuk memfokuskan cahaya ke area fovea.

Kalau memang penjelasan diatas agak membingungkan, cukup ingat bahwa kita menyipitkan mata agar mata dapat lebih baik memfokuskan cahaya, dan mengurangi jumlah cahaya yang masuk ke dalam mata sehingga mengurangi cahaya-cahaya lain yang tidak diperlukan.

Tinggalkan komentar