Mengapa Saya Menulis?

Kali ini saya ingin membagikan alasannya mengapa saya menulis. “Menulis” dalam pembahasan kali ini berarti membuat konten dalam bentuk kata-kata, baik itu digital.

Mengapa tidak membuat podcast (audio) ataupun video? Bukankah lebih ngetren saat ini?

Memang benar konten dalam bentuk audio dan video lebih populer saat ini dibandingkan tulisan. Apalagi sejak infrastruktur Internet di Indonesia semakin baik sehingga bisa mendukung permintaan para konsumen Internet yang begitu besarnya. Namun ada beberapa alasan yang membuat saya pada akhirnya memilih untuk menulis.

Berikut adalah alasan-alasan dari saya.

1. Melatih Kemampuan Berkomunikasi

Ada riset yang mengatakan latihan menulis akan membuat diri kita menjadi seorang komunikator yang lebih baik lagi.

Ketika kita ingin menyampaikan sebuah ide dalam tulisan, kita tidak bisa menyampaikan pokok idenya begitu saja. Kita harus mengikuti sebuah struktur, dimulai dari konteks, inti masalah kemudian ide kita beserta alasan-alasannya.

Proses seperti ini akan melatih diri kita untuk selalu melihat suatu hal dari lebih banyak sudut pandang. Dan jika kita menerapkan hal ini ketika berkomunikasi secara verbal, lawan bicara kita juga akan lebih mudah untuk mengerti ide yang kita sampaikan.

2. Lebih Memperhatikan

Kemampuan memperhatikan dianggap tidak penting oleh banyak orang. Padahal seumur hidup kita itu kita belajar dengan cara “memperhatikan”.

Memperhatikan tulisan yang ada di buku, memperhatikan apa yang diajarkan oleh guru, memperhatikan penjelasan dari senior kita di tempat kerja, atau memperhatikan apa yang akan dilakukan orang gila ketika ada orang lain yang lewat di depannya.

Nah, apa hubungannya dengan menulis?

Menulis memiliki keterbatasan dibandingkan media audio ataupun video. Kita tidak bisa menunjukkan nada suara, paras muka dan gerak gerik tubuh yang merupakan bagian-bagian penting dari komunikasi.

Namun dengan susunan kata-kata yang tepat, kita juga bisa membuat para pembaca membayangkan apa yang ingin kita sampaikan dengan baik. Dan agar kita bisa membuat susunan kata-kata yang tepat, kita perlu memperhatikan (mempelajari lebih dalam) objek yang ingin kita sampaikan.

Mari kita lihat contoh berikut.

Ibu marah dan berkata, “Andi, jangan lakukan hal itu lagi ya!”.

Lalu, mulai sekarang coba kamu perhatikan setiap ibu-ibu yang marah. Perhatikan lebih detail lagi, bagaimana paras mukanya, gerak gerik tubuhnya, dan kemudian tuangkan dalam kalimat tersebut.

Muka Ibu menjadi merah seperti baru saja menggigit cabai rawit, kerutan di antara alisnya semakin jelas dan dalam. Dengan sandal jepit di tangan kanannya, dia membuka pintu kamar Andi tanpa mengetuknya, “Andi, jangan kau lakukan hal itu lagi!”. Muka Andi pun menjadi pucat seketika.

Memang tulisan yang kita butuhkan semakin panjang. Namun menurut saya yang lebih penting adalah pembaca selain mengerti informasi yang kita sampaikan, mereka juga bisa merasakan hal yang sama.

3. Lebih Bisa Dikonsumsi

Jika seandainya suatu saat kita buat atau tulis, kita tidak akan bisa menikmati konten yang berbentuk audio ataupun video lagi.

Lah, bukannya sama dengan tulisan? Kalau sudah buta, bagaimana kita bisa membaca?

Kan ada huruf Braille. Hehe. Jika tulisan kamu bagus, pasti suatu saat ada pihak lain yang ingin membuat tulisan kamu tersedia untuk orang-orang yang buta dan menerjemahkan tulisan kamu ke dalam huruf Braille.

Baca juga Sejarah Huruf Braille

~

Nah, itulah tiga alasan mengapa saya memilih bentuk konten tulisan daripada audio dan juga video.

Selain itu, ketika saya memilih suatu hal yang jarang dipilih orang banyak, saya mendapatkan perasaan bahwa saya yang mengendalikan hidup saya. Saya akan memilih yang terbaik menurut saya, bukan ikut-ikutan orang lain.

Namun saya tidak mengatakan bahwa media jenis lainnya tidak lebih baik daripada tulisan ya.

Kalau teman-teman sekalian, apa media yang kalian pilih? Dan mengapa?

Leave a Comment