Pelajaran Hidup Dari Filosofi Stoicism

Akhir-akhir ini saya senang membaca buku-buku dan artikel-artikel tentang filosofi Stoicism.

Kata stoicism merupakan serapan dari kata Stoa, sebuah kata dalam bahasa Yunani, yang memiliki arti “beranda”.

Saat ini, kata stoic diasosiasikan dengan orang-orang yang emosinya tidak terpengaruh oleh kesemrautan yang ada di dunia ini, kadang-kadang bisa terlihat seolah-olah mereka itu cuek.

Saya tidak akan membahas terlalu detail tentang asal usul filosofi ini. Mungkin di artikel-artikel berikutnya kita akan membahasnya lebih detail.

Untuk artikel kali ini, saya akan membahas hanya 2 buah poin yang bagi saya sangat berpengaruh pada hidup saya. Yuk kita mulai!

1. Ketahui Apa Yang Bisa Kita Kendalikan

Ketika kita kehilangan seseorang yang kita cintai, kita akan merasa sedih. Ketika kita mencapai atau mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, kita akan merasa bahagia. Ketika kita disalip secara berbahaya ketika sedang menyetir, kita akan merasa kesal dan marah.

Semua sebab dari peristiwa-peristiwa di atas adalah hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan.

Kita tidak tahu kapan seseorang akan meninggalkan dunia ini. Kita tidak tahu kapan orang akan menghadiahkan kita sesuatu yang kita inginkan. Kita tidak bisa menyuruh semua orang untuk tertib lalu lintas.

Namun, semua akibat dari peristiwa di atas adalah hal-hal yang bisa kita kendalikan.

Kita memang akan merasa sedih ketika kehilangan orang yang kita cintai. Tapi kita bisa memutuskan untuk tidak larut dalam kesedihan terlalu lama. Kita boleh saja merasa senang minta ampun ketika mendapatkan hadiah, namun kita juga bisa menunda untuk langsung senang dan berpikir dulu apakah ada motif tertentu dibalik hadiah tersebut. Dan ketika kita disalip, kita bisa menganggap mungkin orang tersebut sedang dalam keadaan darurat dan kita pun tidak perlu marah.

Dalam filosofi stoic, kita harus mengetahui hal-hal apa yang bisa kita kendalikan dan tidak bisa kita kendalikan dalam hidup kita.

Kita tidak perlu ambil pusing untuk hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Karena jika kita terlalu berharap pada hal-hal tersebut, ini akan menimbulkan gejolak atau perasaan negatif dalam diri kita jika seandainya tidak seperti yang kita inginkan.

Kita seharusnya cukup mengubah apa yang bisa kita kendalikan. Pada dasarnya, setiap manusia memiliki kendali penuh untuk membuat keputusan dan mengatur emosi kita. Dalam kondisi apapun, dua hal tersebut adalah dalam kendali kita sepenuhnya.

2. Menghadapi Kehidupan, Bukan Melarikan Diri

Ada beberapa filosofi lainnya yang mengajarkan kita bagaimana caranya untuk menemukan kedamaian dalam hidup. Misalnya seperti tidak berkeluarga atau pindah ke sebuah lokasi yang tenang dan damai seperti di bawah kaki gunung atau tepi pantai.

Saya bukan mengatakan cara tersebut adalah salah. Itu adalah pilihan. Jika cocok silakan dijalankan.

Dalam filosofi stoic, cara yang diajarkan adalah menghadapi kehidupan itu sendiri.

Kita tahu bahwa ketika berkeluarga, pasti akan terjadi cek-cok antara suami istri atau bahkan dengan anak. Kita tahu bahwa ketika hidup di kota, kita pasti akan menghadapi banyak orang yang tidak menjalankan peraturan dan bahkan bisa merugikan diri kita sendiri. Namun, kita tetap berkeluarga dan hidup di kota.

Seperti yang dijelaskan di poin pertama, semua kondisi yang tidak menguntungkan tersebut adalah sebab yang di luar kendali kita.

Anggap aja ini sebuah ajang melatih diri kita untuk menemukan kedamaian dalam kekacauan. Jika kita berhasil melakukannya, bukankah kita lebih hebat daripada yang memilih tinggal di gunung? Hehe.

~

Jadi, ini dua buah pelajaran yang sangat penting dari filosofi stoic yang ingin saya bagikan dalam artikel ini.

Kembali lagi, ini adalah pilihan. Jika teman-teman merasa dua hal ini bagus dan patut dijalankan, silakan dijalankan.

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan komentar