Sejarah Huruf Braille

Jika kamu belum pernah mendengar apa itu huruf Braille, huruf ini berupa kombinasi titik-titik tonjolan yang bisa dirasakan dengan ujung jari untuk membantu orang buta membaca. Huruf Braille juga bisa merepresentasikan angka, huruf kapital dan tanda-tanda baca.

Yang pertama kali terpikirkan oleh saya, “Wah, sepertinya sulit ya membaca dengan meraba-raba. Mau baca satu kalimat aja butuh waktu berapa lama tuh…”.

Ala bisa karena biasa. Begitu juga kita yang memiliki penglihatan normal, ketika kita masi belajar membaca, coba diingat kembali berapa lama untuk membaca sebuah kalimat. Hehe.

Ternyata bagi mereka yang sudah lancar menggunakan huruf Braille, mereka bisa membaca dengan kecepatan sekitar 125 kata per menit. Sedangkan yang cukup cepat, bisa mencapai kecepatan 250 kata per menit, seperti kecepatan rata-rata orang normal membaca.

Berarti cukup cepat ya…

Inspirasi Awal Huruf Braille

Jika kita tarik ke akarnya, penggunaan kombinasi titik-titik tonjolan sebagai huruf sudah mulai di tahun 1800an ketika masa pemerintahan Napoleon Bonaparte.

Napoleon memerintahkan salah satu bawahannya bernama Charles Barbier untuk menciptakan cara berkomunikasi dengan aman di malam hari. Dan cara yang ditemukan Charles ini dikenal sebagai “night writing” atau diterjemahkan sebagai menulis di malam hari.

Sebagai seorang veteran militer, Charles sering melihat banyak tentara yang mati ketika mereka membaca pesan menggunakan lampu di malam hari. Karena cahaya dari lampu tersebut, musuh menjadi tau lokasi mereka, dan pada akhirnya mereka tewas karena serangan musuh.

Penemu Huruf Braille

Nah, huruf Braille sendiri bukan ditemukan oleh Charles Barbier, tapi terinspirasi oleh cara Charles Barbier.

Yang menemukan huruf Braille adalah Louis Braille, yang kemudian menggunakan nama dia sendiri untuk menamakan cara ini.

Ketika masih muda, Louis mengalami kecelakaan, tak sengaja menusuk matanya dengan peralatan kerja milik ayahnya.

Ketika Louis berumur 11 tahun, dia mendapatkan inspirasi dari kisah Charles Barbier. Kemudian dia menghabiskan waktunya selama 9 tahun untuk mengembangkan huruf Braille yang lebih efisien.

Sistem yang digunakan Charles Barbier menggunakan kombinasi dari 12 titik, sedangkan Braille hanya menggunakan 6 buah titik. Sebuah huruf bisa langsung diidentifikasikan hanya dengan sekali sentuhan, sehingga kecepatan membaca menjadi meningkat.

Louis Braille meninggal di umur 43, pada tahun 1853. Setahun kemudian, negara asalnya, Prancis mengadopsi huruf Braille sebagai sistem komunikasi resmi untuk para individual yang kehilangan indera penglihatannya. Dan setelah itu, huruf Braille mulai dipakai oleh negara lain, hingga saat ini dipakai seluruh dunia.

Hampir tidak ada perubahan pada sistem huruf Braille, hanya ada penambahan-penambahan kecil untuk mendukung beberapa alfabet khusus dari negara tertentu.

Tinggalkan komentar