Ternyata Manusia Menghasilkan Cahaya

Judul artikel ini bukanlah sebuah pernyataan kiasan, tapi benar-benar seperti apa yang dideskripsikan.

Kita sebagai manusia memiliki tubuh yang menghasilkan cahaya. Hanya saja, cahaya yang dihasilkan memiliki intensitas yang sangat rendah, yaitu sekitar 1/1000 cahaya yang bisa ditangkap oleh mata kita. Bahkan sebenarnya, semua makhluk hidup di muka Bumi bisa menghasilkan cahaya.

Di tahun 2009, sebuah riset dilakukan untuk membuktikan bahwa manusia termasuk bioluminesensi. Hasil riset bisa kamu baca di Imaging of Ultraweak Spontaneous Photon Emission from Human Body Displaying Diurnal Rhythm.

Saya akan mencoba meringkasnya ke dalam bahasa Indonesia yang lebih simpel, jadi jangan berharap saya membahas semua detail-detail yang ada di laporan riset di atas ya.

Baca juga Perbedaan Bioluminesensi danĀ Biofluoresensi.

Emisi Foton

Tubuh manusia secara teratur terjadi emisi foton yang, secara teori, akan menghasilkan cahaya dalam prosesnya. Hanya saja, karena jumlahnya sangat amat kecil, maka cahaya yang dihasilkan tidak kasat mata.

Penelitian ini menggunakan sebuah kamera canggih yang sangat sensitif, yang sanggup menangkap aktivitas dari sebuah emisi foton. Kamera ini digunakan untuk memonitor para peserta percobaan.

Selama masa percobaan, para peserta berada di tempat yang terdiri dari sebuah ruangan dengan cahaya normal (400 lux) dan tepat bersebelahan di sebuah ruangan gelap total. Para peserta juga mendapatkan waktu istirahat dari pukul 00:00 – 07:00.

Setiap 3 jam sekali dilakukan pengukuran. Para peserta akan melakukan beberapa prosedur untuk memastikan percobaan yang dijalankan tidak dipengaruhi oleh hal lainnya, dan kemudian ditempatkan di dalam ruangan gelap dalam kondisi telanjang. Kemudian, kamera akan memantau emisi foton dari tubuh peserta selama 20 menit.

Dan inilah hasilnya:

  • Emisi foton paling banyak adalah di sore hari dan kemudian berangsur-angsur menurun.
  • Emisi foton paling sedikit adalah ketika waktu subuh, pukul 01:00 – 07:00.
  • Emisi foton paling banyak terjadi di sekitar pipi, leher bagian atas dan dahi.
  • Ketika hormon kortisol (hormon stres) menurun, emisi foton semakin tinggi.
  • Tidak ada korelasi antara suhu tubuh dan jumlah emisi foton.

Aura?

Ada satu hal yang membuat saya penasaran.

Jangan-jangan ini yang menyebabkan seseorang seakan-akan memiliki aura di sekeliling kepalanya ya? Jadi orang-orang sakti itu sebenarnya adalah orang-orang yang mampu menghasilkan emisi foton dalam jumlah yang cukup banyak.

Bagaimana menurut teman-teman sekalian?

Tinggalkan komentar